KAJIAN ASWAJA

“MEMBUMIKAN ISLAM, MEMBERIKAN MAKNA KEMANUSIAAN

“…Jika para pendahulu telah memulai muqaddimah konvensional mereka
yang bersifat keimanan itu dengan nama Allah; maka kami memulainya atas nama bumi yang terampas… atas nama kemerdekaan… atas nama kebaikan… atas nama perlawanan… atas nama persamaan dan keadilan… atas nama persatuan umat… atas nama kemajuan… atas nama kebangkitan umat… atas nama cinta kemurnian… atas nama mereka yang terbungkam…
dan atas nama seluruh kaum Muslimin yang tertindas…”
[Hassan Hanafi]

Pemahaman manusia tentang agama amat sangat beragam, sungguh ironis melihat sebagian umat Islam memandang Islam itu hanya Isya, Subuh, Lohor (zhuhur), Asar, dan Maghrib, sesuai dengan singkatan namanya. Ada juga  yang memandang Islam itu hanya Jihad, shalat tidak shalat pokoknya jihad,  yang lain menganggap Islam itu Khilafah dan Khilafah, hidup matinya untuk khilafah, walau mereka tidak mengerti apa itu khilafah!. Ada juga yang memandang Islam itu hanya aqidah dan ibadah. Benarkah Islam seperti itu yang diajarkan oleh Allah Swt. melalui lisan Rasulullah Saw.? Benarkah Islam terbentuk dalam wujud serpihan-serpihan seperti itu? Lalu, apa itu Islam?

Islam adalah agama yang rahmatan lil’alamin dan agama yang bersifat universal. Maksudnya, agama Islam adalah agama yang memberikan kebahagiaan dan jalan kebenaran bagi seluruh umat serta mempunyai ajaran yang bersifat global, berlaku bagi siapa saja, dimana saja dan kapan saja.

Universalitas dalam Islam menyangkut tiga dimensi penting, yaitu:

  • Mencakup dimensi waktu. Artinya bahwa Islam bukanlah suatu agama yang diperuntukkan untuk umat manusia pada masa waktu tertentu, sebagaimana syariat para nabi dan rasul yang terdahulu. Namun Islam merupakan pedoman hidup yang abadi, hingga akhir zaman. (QS. 21:107)
  • Mencakup seluruh dimensi ruang. Maknanya adalah bahwa Islam merupakan pedoman hidup yang tidak dibatasi oleh batasan-batasan geografis tertentu, seperti hanya disyariatkan untuk suku atau bangsa tertentu. Namun Islam merupakan agama yang disyariatkan untuk seluruh umat manusia. (QS. 34: 28)
  • Mencakup semua sisi kehidupan manusia. Ajaran Islam mencakup seluruh sisi kehidupan manusia, diantaranya sisi ibadah, akhlak, ekonomi, politik, sosial, dan pendidikan. Dan Allah SWT memerintahkan agar kita masuk ke dalam agama Islam secara sempurna (kaffah).

Al-Qur’an dan Sunnah adalah sumber ajaran agama yang bersifat universal. Dalam upaya merelevansikan ajaran ini sangat diperlukan pemahaman dan penafsiran dari teks tersebut secara luas, sehingga Islam sebagai agama samawi dapat membumi. Artinya, dapat diaplikasikan dalam kehidupan manusia di segala zaman.

Fenomena yang muncul saat ini ialah bahwa agama kurang mempunyai peran  dalam mengatasi problema kemanusiaan. Agama hanya berkutat pada wilayah-wilayah ubudiyah dan ke-Tuhanan (teosentris) dan kurang menyentuh pada aspek pemenuhan kebutuhan manusia. Yang idealnya, agama harus adaptif dan mampu memberikan upaya pembebasan dan pemihakan terhadap kaum lemah (mustad’afin), memberdayakan masyarakat secara kritis, menyerukan kesetaraan gender, pluralisme, anti kekerasan dan sebagainya. Sehingga ajaran agama Islam mampu dibahasakan dan dirasakan bagi manusia secara apik dan nyata. .

Namun, dalam merealisasikan dari gagasan tersebut tentunya tidak semudah membalik telapak tangan. Karena untuk merubah pola pikir keberagamaan umat dari pola teosentrisme menuju antroposentrisme tidaklah gampang. “Arogansi teologis” yang menganggap bahwa ibadah hanya untuk Tuhan telah menancap kuat sehingga harus diruntuhkan dan digantikan dengan wawasan antroposentrisme. Bahwa manusia adalah titik tuju agama. Sehingga agama bukan hanya media merebut “hati” Tuhan dengan imbalan pahala, surga dan seterusnya tetapi agama mesti dijadikan ikon pembebasan, perlawanan terhadap rezim otoriter, kesetaraan gender dan sebagai sarana kebahagiaan dunia akhirat.

Wahyu merupakan kehendak Tuhan berupa perkataan yang diturunkan kepada manusia, yang meliputi manusia secara keseluruhan. Teologi, karenanya, adalah antropologi. Teologi merupakan ilmu kemanusiaan, bukan ilmu ketuhanan. Ia merefleksikan konflik-konflik sosial politik. Teologi sebagai hermeneutik bukanlah ilmu suci, melainkan ilmu sosial yang tersusun secara kemanusiaan. Jadi, hal mendesak yang perlu dilakukan ialah mengubah paradigma teologi klasik dari yang awalnya berorientasi pada teosentrisme —di mana Tuhan menjadi fokus perhatian— menuju paradigma antroposentrisme, dengan menjadikan manusia sebagai pusat perhatiannya.

Dengan demikian maka bicara tentang agama bukan hanya bicara ke-Tuhan-an, namun juga bicara kepentingan dan kesejahteraan manusia sebagai wakil Tuhan dalam mengelola bumi (Kholifah fil Ardl).

Posted on November 26, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: