Peta Pemikiran Paulo Freire 1921-1997

Abstrack; Pada awalnya setiap orangtua siswa-siswi berharap kelak anak-anaknya akan menjadi orang yang mandiri dan tegar dalam menghadapi kehidupan dengan jalan memasukannya ke subuah lembaga pendidikan. Namun fakta ternyata berbicara lain; yang diajarkan hanyalah angka-angka yang semakin mengasingkan siswa-siswi pada dunia, seringkali siswa-siswi diajarkan angka-angka dan rumus-rumus yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan kehidupan, seperti; menghitung panjang ekor komet, menghitung puncak tertinggi dari hasil lemparan batu yang membentuk parabola dan lain sebagainya. Adapun ketika potensi individu telah terasah, nasib siswa-siswi yang menempa ilmu pun dalam kelulusan Ujian Akhir Nasional (UAN) hanyalah ditentukan oleh ujung pensil 2B yang mereknya telah bertunangan dengan lembaga pendidikan Nasional, bukan dengan potensi dan kecerdasan yang selama ini ditempa dan yang dimilikinya, jika jawaban benar namun kurang tebal dalam hal melingkari jawaban atau tebal tapi tidak memakai pensil yang telah ditetapkan maka “salah” merupakan konsekuensi yang harus diterima oleh peserta didik. Dehumanisasilah yang mereka dapatkan. Jika ujian telah berlangsung, pendidik kadang hanya bisa menyalahkan bila jawaban siswa-siswinya salah, tanpa memotivasi dan memberi contoh yang benarnya seperti apa. Jika jawaban yang diisikan benar tak ada sepatah kata pun untuk didialogkannya. Pada akhirnya siswa-siswi pun merasa asing dan tidak berdaya dalam menghadapi kehidupan nyatanya.
Paulo_Freire 6666
Pada dasarnya pendidikan adalah manifestasi kehidupan. Proses pendidikan adalah proses pemanusiaan manusia untuk menjadi manusia yang se-utuhnya. Namun apa yang terjadi?, jika penulis diperbolehkan meminjamungkapan bahasa Yunani ternyata dasolen dan dasein tidak berjalan selaras pada kenyataan (khususnya di Negara kita). Pendidikan yang seharusnya menciptakan manusia yang mandiri dan mampu berkata ”ya pada kehidupan” dengan terpeliharanya “kehendak untuk berkuasa” ternyata telah mengalami dehumanisasi yang membuat manusia malah menjadi lemah dan tidak berdaya dalam kehidupan serta asing dengan dunianya. Ketidak mampuan dan ketidak berdayaan ini tercermin pada fenomena antrian beribu-ribu penganggur yang mengajukan lamaran pekerjaan, dan hal ini terjadi secara rutin dari tahun ke tahun, mereka berbondong-bondong membawa ijazah yang menjadi tumpuan dan harapan mereka untuk mendapatkan pekerjaan yang diharapnya. Padahal tidak ada kaitan apapun antara ijazah dengan mengankut barang di gudang, atau mesin jahit. Kelemahan dan ketidak berdayaan tersebut tercermin pada ketergantungannya akan sesuatu yang kuat. Yang kuat ini bisa berbentuk perusahaan atau pun Negara.

Manusia adalah penguasa atas dirinya, dan telah menjadi ciri khas tersendiri bagi manusia bahwa ia mampu mengatasi masalahnya sendiri dengan “kehendak untuk berkuasa” yang dimilikinya. Dan oleh karena itu fitrah seorang manusia adalah merdeka dan bebas. Hal yang seperti inilah yang diperjuangkap Paulo Freire dalam upayanya untuk memperjuangkan pendidikan yang humanis,pendidikan yang tidak merendahkan kemanusiaan. Bagi Freire pendidikan haruslah berorientasi pada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri, atau pendidikan haruslah mengimplikasikan tentang konsep manusia dunia, agar manusia memiliki keberanian untuk berkata “ya pada kehidupan” tidak dibuat lemah dan merasa ketakutan dalam menjalakan hidup yang sesungguhnya. Seringkali dipraktikannya budaya subjek – objek dalam proses pendidikan telah mengalienasikan peserta didik yang soeolah pendidik lah yang serba tahu dan benar atas segala yang disampaikannya dan peserta didik dianggap tidak mengetahui apa-apa, tidak diberikan ruang dialogsubjek – subjek terhadap peserta didik merupakan suatu masalah dehumanisasi dalam dunia pendidikan bagi Freire.

Pendidikan Kaum Tertindas merupakan salah satu karyanya mengenai cita-cita dan perjuangan Paulo Freire guna mewujudkan pendidikan yang humanis. Dalam esai filsafat pendidikannya Freire memandang bahwa bagaimanapun bentuk penindasan adalah tidak manusiawi, apa pun alasannya. Budaya bisu yang selama ini sering dipraktikan dalam lingkungan pendidikan merupakan bentuk nyata dari penafian kemanusiaan (dehumanisasi). Selama hidupnya ia selalu memperjuangkan agar setiap manusia yang mengalami dehumanisasi dapat menghindarkan diri atas alienasi kehidupan nyata dari budaya pendidikan yang mnindas. Bagi Freire jika seseorang pasrah, menyerah akan apa yang menindas sesungguhnya ia sama sekali tidak manusiawi.

Perlawanan Freire dan perjuangannya untuk mewujudkan kebebasan serta penegakan pendidikan yang humanis, pada dasarnya gagasan tersebut ter-inspirasi oleh semangat Teologi Pembebasan. Freire mengkritik sekaligus menyelamatkan ajaran revolusioner umat Kristiani. Ia melancarkan kritik terhadap gereja karena sikap reaksionernya terhadap situasi yang kacau, sehingga kaum agamawan seolah tidak berdaya untuk membumikan nilai-nilai humanis yang terdapat dalam kristianitas untuk mencegah dan memerangi penindasan. Freire melihat kondisi yang penuh dengan penindasan seharusnya cinta kasih yang terdapat dalam teologi Kristiani mampu menaruh perhatian terhadap kasus-kasus eksploitasi manusia dan kemiskinan. Dia meyakini bahwa pada dasarnya Tuhan telah menciptakan dan membiarkan sejarah penindasan di muka bumi ini. Namun bukan berarti al-Kitab yang terdapat dalam agama Kristen tidak dapat menjadi “ruh” untuk melakukan perubahan. Tuhan selalu memiliki maksud dan menaruh harapan kepada manusia untuk melakukan drama terbaik dalam kehidupan untuk merubah ketetapnnya melalu pemberian wahyu dan potensi serta cinta kasih terhadap manusia. Drama yang dimaksud yakni drama manusia dam menghadapi tragedy (jika meminjam bahasa Niestzche).

Konsepsi dan aksinya yang radikal untuk merubah kembali dunia kependidikan yang sudah tidak lagi humanis merupakan hal yang penting dan patut kita teruskan perjuangannya. Pendidikan di mata Freire merupakan sebuah Pilot Project dan agen untuk melakukan perubahan social guna membentuk masyarakat baru yang baru dan anti terhadap status quo (penindasan dalam pendidikan). Dimatanya pendidikan merupakan sebuah bentuk perjanjian khusus dengan masyarakat yang memegang dominasi untuk menentukan kehidupan social di masa yang akan datang, dan oleh karena itu masyarakat haruslah berpartisipasi dalam pendidikan dan sekolah. Karena ia memandang bahwa sekolah merupakan suatu wadah untuk melatih kita memahami makna kekuasaan dalam kehidupan politik penindasan. Penulisan makalah kali ini penulis akan mencoba untuk sedikit berbagi semangat atas perjuangan dan konsepsi atau metodologinya dalam memperjuangkan dan menawarkan dunia pendidikan yang humanis dan yang mampu memanifestasikan kehidupan manusia. Semangat kebebasan dan penawaran untuk mewujudkan pendidikan yang humanis-nya pun telah banyak dipengaruhi atau terdorong oleh konsepsi Teologi Pembebasan Amerika Latin Martin Luther. Pemahaman Freire mengenai “reflektif” terhadap pengetahuan diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran kepada kita, entah apa pun kesadaran itu.

A. Riwayat Paulo Freire

Paulo Freire lahir pada 19 September 1921 di sebuah kota terpencil yang ada di Brazil yakni Recife, sebuah kota yang terletak di pesisir pelabuhan di timur laut Brazil. Kemiskinan merupakan teman yang pertama kali dikenalnya, lapar dan pengasingan dari kemegahan kota adalah ke-akraban yang menemani hidupnya sehari-hari sewaktu kecil. Dengan kondisi social seperti itulah yang mendorongnya untuk berjanji akan bekerja diantara kaum miskin dan mencoba untuk memperbaiki nasib hidup mereka (orang-orang yang tinggal di sekelilingnya). Sebenarnya bila melihat latar belakang orangtuanya ia adalah terlahir dari kalangan kelas menengah ke atas, namun kadang kekurangan financial merupakan warna tersendiri dalam kehidupan keluarganya, dan karena pola hidup dan kondisi social demikianlah yang engantarkan Freire akan arti lapar dan kesengsaraan hidup dalam sebuah penindasan. Ia memahami betul arti lapar.

Setelah situasi ekonomi keluarganya sedikit membaik ia berkesempatan untuk kuliah di Fakultas Hukum University of Reciife. Di sana ia belajar Psikologi, filsafat dan bahasa. Dalam masa-masa kuliahnya ia pun sempat bekerja sebagai instruktur di sebuah sekolah. Selama periode tersebut ia mulai berkenalan dengan membaca karya-karya Karl Marx, dan juga intelektual Keristen Mariatin, Bernanos dan Mounier, yang semuanya mempengaruhi cara pandang dan pemikiran Freire mengenai filsafat pendidikannya.

Pada tahun 1944, Freire menikahi Elza Maria Costa Oliveira. Sebagai seseorang yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan ia lebih sering menelaah bacaan tentang pendidikan daripada tentang hukum. Dan Paulo Freire meninggal dalam usia 75 tahun pada tanggal 2 Mei 1997 karena penyakit jantung yang dideritanya. Sepak terjang perjuangannya dan komitmen harapannya yang besar akan selalu terkenang dalam dunia pendidikan. Kehidupan dan karir Freire sebagai seorang pendidik sangatlah penuh optimis meskipun dikungkung dalam suasana kemiskinan, dan pengasingan. Dialah pemimpin dunia yang memperjuangkan kebebasan bagi orang-orang miskin dan pejuang perlawanan budaya bisu yang ada di banyak wilayah.

Awal tahhun 1960 merupakan masa-masa yang sulit bagi pemerintahan Brazil. Namun meskipun itu adalah masa-masa yang sulit bagi hidupnya ia tak pernah berhenti untuk melakukan perjuangannya dalam memerangi buta huruf yang ketika masa itu masih menjamur di Negara tersebut. Pada awal tahun 1963-1964 tim yang dibuat Paulo Freire mulai melakukan penyebaran ke segala pelosok negeri yang ada di Amerika latin untuk melakukan pemberantasan buta huruf. Mereka berhasil menarik minat warga dalam memberantas buta huruf, dan berhasil membuat warga yang buta huruf tersebut untuk bisa baca tulis. Metode yang digunakan Freire adalah metode berpolitik dengan tanpa menjadi kontestan, bagi kalangan militer itu merupakan hal yang sangat radikal

Pada bulan April 1964, militer melakukan agresi dan meruntuhkan rezim pemerintahan Goulat. Seluruh gerakan progresif diintimidasi, dan Freire sendiri ditangkap selama 70 hari karena aktivitas subversifnya. Ketika erada di penjara ia mulai menuliskan sebuah karya pendidikan pertamanya yaitu; Education as the Partice of Freedom. Sebuah buku yang berisi renungan Freire karena kegagalannya melakukan perubahan di Brazil, buku tersebut hanya selesai ditulis setengahnya, dan kemudian ia merampungkannya di Chile dalam masa pembuangan. Di Chile ia bekerja pada sebuah program pendidikan untuk orang dewasa yang diketuai oleh Waldemar Cortes. Gerakannya di Chile telah menarik perhatian dari pihak Unesco. Dan kemudian UNESCO menjadikan Chile menjadi salah satu dari lima Negara tersukse dalam mengatasi buta huruf.

Menjelang akhir 60an ia telah mendapatkan undangan dari Harvard University untuk mengajar di Universitas tersebut sebagai Profesor tamu pada Harvard’s Center for Studies and Developmentdan juga anggota kehormatan pada Center for Study of Development and Social Change. Tahun tersebut merupakan tahun yang penuh dengan kekerasan di Amerika Serikat, ketika keterlibatannya dalam perang Vietnam kampus-kampus di Artmerika bergejolak. Gejolak masalah rasial juga mengikut sertakan kekerasan di jalan-jalan kota Amerika Serikat. Freire pun terpengaruh akan kondisi social pada wakt itu. Dalam situasi seperti itu Freire menemukan bahwa tekanan dan penindasan yang terjadi di dunia ketiga dalam tekanan masalah politik dan ekonomi ternyata berlangsung dengan tak terbatas. Ia pun lalu menambahkan definisinya mengenai dunia ketiga dari konsep geografis ke konsep politis. Tema kekerasan menjadi cirri tersendiri bagi pemikiran dan tulisannya setelah masa itu.

Pada tahun 1979 ia di undang kembali oleh pemerintahan Brazil untuk kembali dari pengasingannya dan diminta kembali untuk mengajar di Sao Paolo University. Dan pada tahun 1988 ia diangkat oleh pemerintah Brazil untuk menjadi menteri pendidikan. Di Rio de Janeiro, Freire menghembuskan nafas terakhirnya dalam usia 75 tahun. Ia meninggalkan harta yang paling berharga, yakni kepedulian serta komitmen dan cinta, harapan bagi seluruh kaum miskin seluruh dunia yang harus kita teruskan kiranya.

B. Teologi Pembebasan sebagai Teologi Pendidikan

Teologi Pembebasan pertama kali muncul di Amerika Latin pada tahun 1970-an. Pada masa teologi pembebasan, perubahan terjadi di dua sisi. Yang petama; terjadi pada sisi liberal-radikal yang membuka suatu wawasan yang meski sama sekali lain namun dampak meluas. Gereja adalah komonitas para orang yang beriman, komonitas para kudus, communitas fidelium, communitas sanctorum dan bukan hanya sekedar hirarki. Yang kemudian pandangan ini melahirkan pemahaman baru yang menyatakan bahwa; bahwa peran Gereja bukan hanya sekedar kerajaan langit yang sama sekali ttidak berarti dan tidak berperan dalam kehidupan Dunia. Bagi Maritain peran gereja haruslah mengenal Dunia dengan menjadikan diri bagian dari mata rantai dunia, being linked to the world, dengan memberikan komitmen kepada dunia being committed to the world.

Perubahan yang kedua dan lebih dahsyat adalah berlangsung pada teologi pembebasan itu sendiri. Teologi menjadai teoritis sekaligus praxis, karena gereja memberikan faham baru gereja sebagaipopulous dei. Mereka berawal dari apa yang diungkapkan oleh Konsili Vatikan II bahwa Allah adalah pencipta, akantetapi berbalik dengan asumsi utama bahwa “rakyat adalah sumber ilham dan otoritas agama. Teologi menjadi teori dan praxis dalam arti kegiatan yang mendorong seeorang dan masyarakatnya menuju suatu perubahan nasib dalam arti ekonomi dan social. Dengan demikian keterlibatan gereja di dalam kehidupan social dan ekonomi menjadi jauh lebih penting. Dengan begitu masuknya teori Marxis dalam prihal Teologi menjadi tidak terelakan atau tidak dapat dicegah. Pemikiran seperti inilah yang pada tahun 1980-an mempengaruhi Eropa dan terutama Amerika Latin sehingga mempengaruhi pemikiran Faulo Freire.

Dalam membicarakan Teologi Pembebasan, Freire memberi obat penangkal teoritis yang berbau sinisme dan keputusasaan, walaupaun banyak kelompok kiri yang juga melancarkan kritik secara radikal terhadapnya. Analisisnya yang tampak utopis menjadi konkrit atas semangat pembebasan dan “rangsangannya”, serta menjadi strating point yang bersifat kolektif di dalam berbagai macam keadaan sejarah, dan khususnya ketika terjadinya penindasan. Analisisnya dikatakan utopis karena menolak untuk menghindar dari resiko dan bahaya yang mengancamnya, sebab ia sangat menentang struktur kekuasaan yang dominan. Visi profetiknya dikatakan profetis karena baginya manusia seharusnya meyakini kekuasaan Tuhan sehingga memiliki kesadaran dan semangat untuk selalu menumpas kebatilan. Kesadaran yang dmaksud Freire ini muncul karena kaum tertindas. Freire memadukan sejarah dan teologi untuk membuat dasar teoritis bagi system pendidikan radikal yang mencakup tumbuhnya harapan, refleksi kritis dan perjuangan bersama. Ini tercermin dalam tindakannya dengan melakukan kritik dan menciptakan kemungkinan yang lebih baik.

Karena Paulo Freire sedikit banyak terinspirasi oleh gerakan teologi pembebasan maka penulis akan mencoba untuk mencoba sedikit memaparkan peranan Gereja yang menjadi alat perjuangan para teolog. Dalam menganalisis peranan gereja, akan lebih mudah, jika kita memahami hubungan antar gereja dan ajaran-ajarannya. Dengan demikian kita rasa hanya cukup untuk melihat masalah yang dihadapi masyarakat Amerika Latin pada waktu itu secara literature kesejarahan mungkin bisa disimak sebagai berikut;

Gereja Tradisionalis

Gereja tradisionalis masih sangat tradisionalis. Ia bahkan bisa disebut juga sebagai gereja misionaris, gereja yang cenderung memisahkan antara urusan-urusan dunia dan akhirat. Alasan masalah duniawi cenderung diabaikan karena orang-orang tradisionalis cenderung memandang bahwa dunia adalah sampah, dimana dunia adalah tempatnya dosa-dosa bertebaran. Oleh kerena itu dunia dipandang sebagai tempat penebusan dosa-dosa, bagi kalangan gerja tradisional memandang bahwa semakin orang-orang menderita akan semakin bersihlah manusia, dan akhirnya bila ia taat atas penebusan dosa-dosa yang dilakukannya ia akan diganjarkan surge dalam kehidupan abadi esok hari setelah mati.

Pandangan seperti ini menurut Freire akan menyenangkan kaum fatalistic, dan sebaliknya sangat tidak menguntungkan bagi orang-orang tertindas dalam perjalanan sejarahnya. Di dalam pandangan tersebut, seolah kaum tertindas ini akan merrasa seolah-olah telah menemukan obat penyembuh atas keletihan yang dideritannya. Oleh karena itu maka suatu konsekuensi logis jika nantinya orang-orang akan tenggelam dalam budaya bisu mereka. Mereka tak akan kuasa menghadapi kekerasan kaukm penindas, bukanlah semangat perlawanan yang akan dilakukannya, tetapi orang-orang tertindas akan segera berduyun-duyun menuju gereja untuk melakukan pengaduan karena tawaran surge akan ke-relijiusan mereka.

Kegelisahaan kaum tertindas akan situasi dan pemahaman demikian akan membuat kaum tertindas merasa teralienasi dari kehidupannya. Karena kgelisahan yang dirasakannya akan berdampak pada amarah mereka akan dunia, bukan pada system social yang menghancurkan tatanan dunia. Dan orang-orang yang berkesadaran demikian menurut Paulo Freire adalah kesadaran magis (sub judul berikutnya akan penulis bahas).

Moderenisasi Gereja

Dalam era moerenisasi gereja, orang-orang banyak yang meninggalkan faham gereja tradisional. Sejarah menunjukan bahwa sikap moderenisassi gereja ini mulai muncull ketika elemen-elemen moderisasi banyak menggantikan struktur sosisial yang bersifat tradisional. Orang-orang yang dulu tertindas pada masa ini mereka mulai bangkit kembali dan menyesuaikan diri dengan masa industrialisasi.

Namun moderenisasi gereja menuju kebebasan tidak pernah sampai melakukan perubahan yang mendasar dalam hubungan masyarakat yang dikuassai dan menguasai, dan dengan munculnya kekuatan masa ketika kaum tertindas melawan si penindas bukanlah atas dasar kesadaran kritis dari yang tertindas. Dan pada akhirnya ini akan berimplikasi pada pergantian penindas lama dengan penindas baru, dehumanisasi akan terus abadi jika kesadaran orang-orang seperti itu. Mengapa demikian? karena ajaran moderenisme tidak pernah mengajarkan keterlibatan historis kaum tertindas di dalam pengertian yang sebenarnya, yakni perjuangan yang tertuju pada pembebasan masyarakat.

Dikarenakan budaya moderenisasi gereja sangat sibuk dengan perkembangan industrialisasi yang tidak lebih hanya sekedar sedikit melakukan perubahan dan lebih cenderung membela ukuran-ukuran neo-kapitalitik, dan yang akan dilahirkan darri modernisasi gereja hanyalah kesadaran-kesadaran masyarakat yang naif, kesadaran yang cenderung memandang manusia sebagai penyebab masalanya. Jika demikian, bukanlah humanisasi yang ditegakan, tetapi pergantian penindas lama dengan penindas baru, sebab mereka cenderung mengabaikan system social yang menghancurkan tatana dunia.

Gereja Profetik

Akhirnya munclulah jenis gereja lain di dunia ketiga. Sebenarnya gereja ini sama tuanya dengan kristianitas itu sendiri, namun berbeda degan gerea tradisional yang sempat penulis singgungdi atas. Gereja jenis ini pun sama barunya seperti gereja moderren namun berbeda dengan modernisasi gereja itu seendiri. Gereja profetik sangatlah berbeda dengan gereja tradisional dan modern sekalipun. Gereja profetik menolak semua pemikiran yang statis yang diajarkan gereja tradisional dan moern.

Gereja ini menolak menjadi (becoming), untuk meng-ada (to be). Karena gereja ini berpikir kritis, oleh karena itu tidak memisahkan transendensi dari usaha pembebasan atas penindasan yang terjadi di dunia. Gereja profetik ini memandang revolusi sebagai alat pembebasan kaum tertindas, dan kudeta militer adalah sebagai kontra gerakan yang reaksioner.

Sikap profetik yang mewujud dalam praksis umat Kristen di dalam sejarah Amerika Latin yang menentang, disertai dengan refleksi teologis yang kaya.

Bagi Freire, untuk menjadi profetik, masyarakat teknologis Eropa dan Amerika Utara tidak perlu dating ke dunia ketiga. Mereka hanya perlu melepaskan melepaskan pakaian ‘kota besarnya’, tanpa menjadi naif atau licik, dan disini mereka akan menemukan stimulus yang cukup untuk berpikir jernih untuk dirimereka sendiri. Mereka akan menemukan bahwa diri mereka bertentangan dengan ungkapan-ungkapan dunia ketiga. Setelah itu, mereka akan mulai mengerti bagaimana latar belakang munculnya profetisitas di Amerika Latin.

C. Mengenal Filsafat Pendidikan Paulo Freire

Pengalaman dalam menyelami pemikiran Freire mengenai filsafat pendidikan bagi penulis merupakan suatu kebanggan tersendiri karena telah mendapatkan spirit yang tak terbatas kekuatannya. Memahami filsafat Freire sangatlah berbeda dengan corak filsafat Yunani atau barat pada umumnya. Sepak terjang yang dilakukannya pertama-tama kita harus dapat memposisikan sendiri sebagai seorang pejuang dan berdialog dengan Freire, karena corak filsafatnya mengenai pendidikan lebih bersifat praksis. Namun makna praksis yang dimaksud Freire memiliki perspektif yang berbeda.Praksis merupakan suatu kesatuan yang tak terpisahkan antara refleksi dan aksi dalam pengenalan an perubahan social, ekonommi dan politik.

Pemikiran Freire tentang pendidikan lebih menyerupai petunjuk (guidance) normative dalam hal-ihwal kependidikan. Yaitu lebih berupa bimbingan untuk menjadi seorang guru yang benar dan murid yang benar dalam arti tahu posisi dan tanggungjawabnya sebagai manusia yang berpendidikan. Pendidikan haruslah saling berhadapan antara murid dan siswa, bukan malah menjaga jarak antara guru dan murid sehingga membuat murid akan teralienasikan dari kehidupan dunia nyata.

Pendidikan kaum tertindas, demikian filsafat pendidikannya dikenal luas. Pendidikan kaum tertindas bukanlah konsep filsafat kering yang mencoba memberikan asas-asas atau jawaban dalam rangka menangani masalah-masalah social. Pendidikan kaum tertindas baginya bukanlah sekedar teori murni yang lepas dari praktik social, teorinya tentang filsafat pendidikan merupakan suatu tindakan yang menuntut komitmen, dan member motivasi dalam seluruh hidupnya.

Tak heran jika banyak teori-teorinya mengenai pendidikan sangatlah lekat dengan tema perubahan structural, meskipun wilayah terakhir yang ingin dituju filsafat adalah perubahan sistematik. Baginya pendidikan kaum tertindas bertujuan untuk pembebasan dan pemanusiaan. Pendidikan oleh karenanya, selalu berperan penting dalam eksistensi manusia. Dan dalam rangka pemanusiaan serta pembebasan itulah Freire melihat penyadaran mrupakan inti dari pendidikan.

Seperti telah disinggung diatas, bahwa Freire terinspirasi oleh gerakan Teologi Pembebasan Amerika Latin, dalam hal filsafat pendidikannya pun dengan pembagian klasifikasi kesadaran adalah analisis dari kesejarahan peran gereja dalam melakukan gerakan perubahan teologi pembebasan.Kemudian dalam hal filsafat pendidikan ia menggolongkan kesadaran manusia menjadi tiga klasifikasi kesadaran, yakni; kesadaran magis, kesadaran naïf, dan kesadaran kritis. Kesadaran magisadalah kesadaran masyarakat yang tidak mampu melihat kaitan antara satu factor dengan factor lainnya. Misalnya masyarakat miskin yang tidak mampu melihat kaitan antara kemiskinan mereka dengan system politik dan kebudayaannya. Kesadaran magis sendiri lebih melihat factor di luar manusia sebagai penyebab dari penindasan atau ketidak berdayaan manusia. Yang kedua ialah kesadaran naif yang lebih melihat aspek manusia sebagai akar penyebab masalah yang terjadi dalam masyarakat. Sedangkan yang ketiga yakni kesadaran kritis adalah kesadaran yang menjadi kata kunci dan anjuran Freire. Kesadaran kritis bagi Freire adalah kesadaran yang lebih melihat aspek system dan struktur sebagai sumber masalah.

penyadaran bukanlaha suatu teknik atau hanya sekedar transfer informasi antara pendidik dan peserta didik, atau pelatihan keterampilan. Akan tetapi penyadaran dengan metode pendidikan saling berhadapan adalah suatu proses pendidikan yang dialogis subjek-subjek yang kemudian akan mengantarkan manusia untuk mamp memecahkan masalah eksistensial mereka. Penyadaran dalam filsafat pendidikan mengemban tugas pembebasan.

Dalam buku termasyhurnya yakni Pedagogi Pengharapan (yang diterbitkan oleh Kanasius), ia melontarkan wacana pembebasan yang didasarkan pada keyakinan transformasi politik dan individu. Freire menekankan bahwa struktur, system, atau lembaga penindasan haruslah ditolak. Secara esensial Freire menyatakan bahwa kesadaran kritis terhadap realitas merupakan keharusan bagi tindakan manusia dan transformasi social. Bagaimanapun, Freire menekankan bahwa persepsi kritis sangalah perlu dan hal itu tidakla mencukupi, karenanya dibutuhkan tindakan praktis dalam pencapaian tujuan pembebasan dan perubahan social. Konsepsi kesadaran kritis didasarkan pada konsepsi hubungan dialektis antara dunia dengan kkesadaran manusia. Gagasan dialektis ini nyata dalam analisis pedagogi Freire.

Hubungan antara penindas dan yang di tertindas ditampilkan oleh Freire sebagai contoh atau bentuk tipologi dialektika Hegelian. Freire mengingatkan bahwa ; status kekuasaan dan dominasi dari penindas tidak mungkin ada tanpa eksistensi kaum tertindas. Penindas dan yang tertindas merupakan manifestasi dari dehumanisasi. Penindas di dehumanisasikan oleh ttindakan penindasan yang membuatakannya bahwa tindakannya tersebut dapat menghancurkan diri sendiri, sementara yang tertindas didehumanisasikan oleh realitas eksistensial penindasan dan internalisasi baying-bayang penindas. Konsekuensi logisnya; penindas menyokong keberadaan eksistensial identitas ganda, menurut Freire tugas atri kemanusiaan kaum tertindas adalah harusnlah membebaskan dirinya sendiri dan penindas-penindasnya.[15]

Namun Freire juga dalam tulisannya seringkali mewanti-wanti ketika kaum tertindas dapat membebaskan belenggunya agar jangan menjadi seorang penindas baru. Karena Freire melihat seringkali kaum tertindas terlempar menjadi sub-oppreesed dengan mengidentifikasi diri sebagai penindas baru.[16] Pada faktanya penidas dan tertindas merupakan suatu faktisitas atau fakta social yang akan selalu ada. Namun, baik humanisasi ataupun dehumanisasi yang sama-sama adadasein aau eksis, tetapi humanisla yang paling tepat disandang manusia. Karena hanya manusialah yang memiliki sifat demikian, selainnya mungkin bukan manusia. Sengkat kata; (bila saya meminjam ungkapan Gus Mus dalam puisinya yang dinynyikan Ian Fals) “aku menyayangimu karena aku manusia”.

Kebutuhan obyektif mengenai perubahan keadaan yang tidak manusiawi selalu memerlukan kemampuan subyektif untuk mengenali terlebih dahulu keadaan yang tidak manusiawi, yang terjadi secara obyektif. Karena kesadaran subjektif dan kemampuan objektif meruakan suatu fungsi dialektis yang kokoh dalam hubungan manusia dengan realitasnya.

D. Hitam Putih model Pendidikan;

antara Pendidikan Tertindas dan Pendidikan yang Membebaskan

dalam karyanya yakni Pendidikan Kaum Tertindas Freire menyebutkan bahwa sistem pendidikan yang men-dehumanisasikan manusia ia istilahkan dengan Banking education. Berdasarkan atas cara pandang yang mekanis dari kesadaran, pendidikan banking memisahkan peserta didik dari isi dan proses belajar dalam lembaga pendidikan. Model pendidikan banking menurut Freire telah mengasumsikan bahwa; ilmu pengetahuan adalah semacam barang atau uang yang bisa di transfer dari satu orang kepada orang lain, atau ilmu pengetahuan di ransfer dari pengajar kepada pengajar. Hal yang demikian telah mengasumsikan secara tidak langsung bahwa; guru adalah layaknya dewa yang tahu segalanya dan murid dipandang sebagai sesuatu yang berdaya dan tidak tahu apa-apa. Model pendidikan seperti ini adalah model pendidikan yang menindas, karena ia telah mendehumanisasikan manusia (siswa-siswi) yang tak pernah diberi kesempatan untuk berdialog. Metode banking dalam pendidikan masih terlihat jelas dalam dunia pendidikan kita seperti; Pola guru mengajar hanyalah bercerita, dan siswa hanya mendengarkannya saja.

Transfer informasi ini adalah suatu perlambang instrument penindasan yang terjadi dalam dunia pedidikan dengan ketidak terbukaannya atas penyelidikan, kreativitas dan dialog siswa-siswi. Model pendidikan tersebut telah mendikotomikan realitas dan mendomestikannya. Konsekuensi logis yang harus dihadapi peserta didik atas system tersebut adalah teralienasinya humanisasi kedalam dehumanisasi.

Terdapat beberapa alasan yang dilontarkan Paulo Freire mengapa pendidikan model banking ini bersifat dehumanisasi. Yakni;

Pendidikan model banking cenderung memitologiskan realitas.

Menolak dialog

Menjadikan siswa sebagai objek yang tidak berdaya

Menghalangi kreaivitas

Sebaliknya Paulo Freire mengajukan model pendidikan yang membebaskan. Atau yang ia istilahkan dengan “Prblem-posing education”, yang didasarkan pada kesaling hubungan antara pendidik dan peserta didik yang demokratis. penulis pun berpikr adanya proses pemerdekaan dalam kehidupan haruslah dimulai dari demokratisasi dan kebebasan dalam dunia pendidikan. Demokratisasi ini merupakan model pendidikan yang mengusulkan dialog dan partnership antara guru an murid. Bentuk partnership ini tercermin pada model guru sewaktu-waktu sebagai murid, dan muridpun sewaktu-waktu sebagai guru. Hubungan timbal balik seperti ini akan memacu kreativitas siswa dan mendorong munculnya kesadaran kritis bagi peserta didik. Pendidikan model tersebut merupakan pendidikan yang dimulai dari realitas kehidupan sesaa, maka dengan hal demikian manusia tidak akan teralienasikan pada keidupan dunianya.

Model pendidikan pembebasan haruslah;

Memposisikan diri sebagaie agen demitologisasi dalam menghadapi masalah

Menganggap dialog sebagai sesuatu yang tidak bisa ditawa-tawar dalam rangka tindakan kognisi yang menyingkap realitas

Memotivasi siswa untuk menjadi seorang pemikir yang kritis

Berdasar pada kreativitas dan merangsang refleksi seta aksi yang benar terhadap realitas

Mengakui historisitas manusia sebagai starting pointnnya

Dari beberapa uraian di atas mengenai model pendidikan yang membebaskan ini dimelai denan keyakinan bahwa program pendidikan semacam itu haruslah dicari melalui keterbukaan dialog yang intensif dengan masyarakat, maka hal ini mensyaratkan pengenalan pendidikan bagi kaum teritndas, dimana keikut seratan kaum tertindas dapat diutamakan.

E. Kesimpulan; serta Kaitannya dengan Dunia Pendidikan Indonesia

jika penulis mencoba untuk mencermati sepak terjang pemikiran dan perjuangan Paulo Freire dengan kaitannya di Indonesia, bagi penulis sangatlah berkaitan dan ada sedikit kesamaan terkait masalah yang dulu ia hadapi. Mungkin hanya rentan waktu saja yang membedakannya. Seperti yang telah penulis abstraksikan di atas, it merupakan faktisitas yang menjadi instrumentalisasi di lembaga pendidikan kita. Dimana dialog antar guru dan siswa selalu saja terbatasi oleh kode etik yang menjelmakan diri dalam moralitas, konotasi “tidak sopan” jika menyanggah guru yang salah masih menjadi karakter dehuanisasi dunia pendidikan Indonesia. Belum lagi ksus putus sekolah dan kesadaran akan pentingnya pendidikan sangatlah jauh, itu karena pendidikan di kita idak terbuka dan kurang memberikan peran kepada masyarakat ertindas untuk berpartisipasi dalam pendidikan.

Sejatinya endidikan adalah manifestasi kehidupan, dan manifestasi kehidupan akan tercapai dengan adanya partisipasi manusia yang merdeka, manusia yang merdeka ini lahir dari adanya kesaling terbukaan atau demokratisasi yang terpraktekan dalam lembaga pendidikan, dan semuanya itu terdorong atas kesadaran kritis, yakni kesadaran yang mampu membongkar system dan struktur dehumanisasi yang tersembunyi. Paulo Freire telah memberikan spirit dan cinta terhadap sesama, itulah warisan yang diberikan dia kepada kita untuk diteruskannya.

Dengan jelas bahwa peran pendidikan yang dibawa gereja profetik sebuah tanda bahwa freire sangat terinspirasi oleh gerakan teologi. Baginya memandang pendidikan profetik sangatlah berbeda dengan gereja tradisional dan modern yang tidak mampu menciptakan tatanan baru karena tak dapat menjadikan masyarakat berkesadaran kritis. Tulisannya mengenai filsafat pendidikan dan kepeduliannya serta spirit dan cinta kasihnya adalah buah dari pribumisasi nilai-nila kristianitas profetik.

Nah bagaimana dengan agama-agama yang ada di negar kita (Indonesia)?. Dehumanisasi masih meraja lela dengan ditandai banyaknya pengrusakan-penrusakan akan faham fanatisme yang naif, berebut kebenaran dan mengabaikan kemanusiaan adalah hal yang perlu kita lawan dengan model pendidikan profetik Freire. Demi terciptanya spirit transendentalitas humanisme yang kokoh. Agama-agam yang ada di kia pun rasanya jangan terlalu terhanyut dalam persoalan pemisahan transcendental dengan dunia serta sibuk atas arus moderenisasi yang serba mekanik dengan industrialisasi. Jika demikian quo vadis pemuka agama Indonesia?

Jika Paulo Freire telah berhasil menjadikan Chile sebagai salah satu dari lima Negara yang sukses memberantas buta huruf, maka pertanyaan mendasar yang menjadi keterkaitan perjalanan Freire dengan konteks Indonesia adalah quo vadis dunia pendidikan dan penerus bapak pendidikan Indonesia?…

Posted on Desember 26, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: