TRANSFORMASI PMII

1891061_729377870420218_1820368420_nYang tak kalah penting ketika membicarakan organisasi adalah mengenai tujuan dan tujuan tersebut haruslah bersifat tertentu. Ke-tertentu-an tujuan inilah yang menjadi faktor penentu bagi eksistensi sebuah organisasi karena warga organisasi akan bergerak menuju arah yang tertentu itu. Bila tujuan dari organisasi tidak tertentu maka akan terjadi kebiasan tujuan (disorientasi) dalam perjalanannya. Sehingga pemahaman tujuan sejak awal bagi anggota organisasi adalah prasyarat utama yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Oleh karena itu memahami PMII dalam persfektif definisi ini sangat penting dilakukan, seiring dengan fakta cukup banyaknya warga PMII yang mengalami kebiasan orientasi dan mengeluh di dalam menjalankan aktifitasnya. Organisasi yang berbasiskan mahasiswa dan berlandaskan islam ahlussunnah waljama’ah ini berdiri sudah kurang lebih 55 tahun. Rentang waktu yang dewasa dan matang bila dianalogikan terhadap umur manusia. Maka aneh bila ditengah perjalanan selama ini banyak ditemukan situasi membingungkan (state of being confused) terutama diantara kadernya. Kebingungan ini terjadi di level individu maupun organisasi, maka kalau situasi seperti ini dibiarkan akan berbahaya bagi eksistensi organisasi.

Permasalahan yang timbul dari internal organisasi bila tidak terkelola dengan baik akan menjadikan organisasi lemah dan tidak akan mampu bertahan ditengah dinamika kehidupan yang cepat dan sangat kompetitif seperti sekarang ini. Jangan sampai kita dibuat sibuk dengan konflik yang tidak produktif. Maka sangat penting bagi PMII secara organisasional untuk mengadaptasikan diri terhadap perubahan di setiap zamannya dengan strategi yang adaptif.

Sekedar mengingatkan bahwa tujuan organisasi yang termaktub dalam pasal 4 AD ART PMII (terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Alloh SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia) harus dipahami dan dihayati sejak awal dan “haram” bagi kader PMII bila lupa terhadap teks tujuan organisasi ini.

Kata-kata yang tercetak miring diatas perlu di perhatikan serta dimaknai secara sungguh-sungguh. Karena kata-kata tersebut sangat syarat dengan nilai, sehingga bila melihat tujuan PMII itu kurang lebih terdapat 6 nilai penting yang dapat dijabarkan sebagai berikut :

  • Nilai Spiritualitas, termaktub dalam kata bertaqwa. Warga PMII harus memiliki kepribadian yang taat terhadap Alloh SWT dengan cara melaksanakan perintahnya dan menjauhi segala larangannya yang sudah diatur dalam kaidah syari’at agama islam yang kita yakini di PMII. Implementasi nyata : Rajin beribadah, baik yang sifatnya individual maupun sosial, baik yang sifatnya mahdhoh ataupun goir mahdhoh dan lain-lain.
  • Nilai Etika, tercermin dalam kata berbudi luhur. Artinya PMII harus memiliki kepribadian moral yang tinggi dalam menjalankan aktifitas organisasinya. Warga PMII harus memahami kaidah moral yag tumbuh dan berkembang di dalam lingkungannya. Implementasi nyata misalnya : Bertutur kata dan berprilaku sopan santun, saling menghargai sesama manusia, taat hukum dan lain-lain.
  • Nilai Intelektualitas, tercermin dala kata berilmu. Artinya warga PMII harus memiliki ilmu dan pengetahuan yang cukup, sehingga dengan ilmu dan pengetahuan itu kita dapat memiliki keahlian tertentu yang dapat dimanfaatkan bagi lingkungannya. Implementasi nyata misalnya : menjadi kader yang pintar, meraih indek prestasi kumulatif yang diatas rata-rata di kampusnya, aktif di memberikan pendapat di kampusnya dan lain-lain
  • Nilai Keterampilan, tercermin dalam kata cakap. Artinya warga PMII harus terampil dan mampu mempraktekan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya didalam kenyataan, sehingga ilmu yang dimilikinya tersebut bermanfaat. Implementasi nyata misalnya, mengabdi sesuai dengan keahliannya masing-masing, mahasiswa pendidikan melakukan advokasi pendidikan, mahasiswa hukum melakukan advokasi hukum dan lain-lain.
  • Nilai Tanggungjawab, tercermin dalam kata bertanggungjawab. Artinya didalam segala prilaku warga PMII, ia harus mampu mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Jadi kader PMII tidak boleh disebut sebagai “pengecut” yang takut akan resiko atas apa yang diperbuatnya.
  • Nilai Kebangsaan, tercermin dalam kata komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Artinya warga PMII harus turut serta memperjuangkan cita-cita negara sebagaimana tertuang dalam pembukaan konstitusi (UUD 1945). Implementasi nyata misalnya turut serta menciptakan negara yang bersih, memperjuangkan kesehateraan sosial, peduli terhadap nasib negara dan bangsa Indonesia dan lain-lain

Ke-enam nilai tersebut harus diinternalisasi kedalam jiwa-jiwa anggota maupun kader secara sistematis dan bertahap. Memang disadari bahwa yang rada sulit tapi gak sulit-sulit amat, bila dipikirkan sungguh-sungguh adalah mempraksiskan kaidah hukum pasal 4 AD ART kedalam habitus kader PMII. Bila disederhanakan kader PMII diharapkan menjadi orang yang bertaqwa, beretika, berintelektual, terampil, bertanggung jawab dan berkebangsaan.

Bagaimana caranya merubah ?

Gray & Starke (1984:552-553) menyatakan bahwa kunci sukses mengelola perubahan salah satunya tergantung pada kemampuan dan keberhasilan menganalisis tingkat-tingkat perubahan keorganisasian, yang mencakup tingkat individu, kelompok dan keorganisasian.

  • Perubahan pada tingkat individual; perubahan ini jarang menimbulkan implikasi signifikan, meski terdapat pengecualian tertentu di saat-saat tertentu.
  • Perubahan pada tingkat kelompok; perubahan pada tingkat kelompok seringkali menimbulkan dampak cukup besar, sebab kebanyakan kegiatan organisasi diorganisir pada basis kelompok.
  • Perubahan pada tingkat keorganisasian; perubahan pada tingkat ini kerap disebut dengan pengembangan organisasi (organizational development).

Perubahan pada setiap tingkat saling mempengaruhi satu sama lain, namun yang paling penting bagi organisasi adalah perubahan pada tingkat organisasi yang dapat memengaruhi secara signifikan terhadap seluruh tingkatan. Teori trickle down effect akan terjadi bila struktur yang berada pada tingkat paling atas berubah, maka pada tingkat yang lebih rendah pun akan berubah. Perubahan yang diharapkan adalah bersifat dialektis sehingga organisasi mampu menyesuaikan dirinya dengan konteks kekinian yang sedang berkembang menuju perubahan yang lebih berkualitas. Karena bila organisasi tidak mampu menyesuaikan diri dengan kenyataan yang sedang berjalan maka akan menjadi tidak berfaedah bagi kehidupan.

Kesimpulannya adalah reorientasi terhadap ketertentuan tujuan organisasi adalah kebutuhan utama bagi anggota sejak awal untuk mencegah terjadinya kebingungan bagi setiap anggota organisasi. Selain itu anggota harus mampu mendiferensiasi diri sebagai individu yang sendiri dan individu sebagai kelompok organisasi. Hal demikian perlu dilakukan mengingat kita memiliki dua posisi yang berbeda dan semua posisi tersebut harus dijalankan secara sebanding. Kadang-kadang ketidakmampuan dalam memisahkan kepentingan anggota sebagai individu dengan kepentingan organisasi akan menyebabkan resistensi organisasi.

Setidaknya kunci sukses dari sebuah soliditas organisasi termasuk PMII adalah sebagai berikut :

  • Kuatnya Ideologi/ Visi
  • Berjalannya sistem & struktur organisasi
  • Mapannya sistem kaderisasi (merit system)
  • Memiliki Strategi (berlapis, efektif, efisien dan esensiil)
  • Memiliki (kemandirian) Logistik

Demi mengakselerasi 5 hal di atas, maka PMII segera harus melakukan 4 konsolidasi, yakni konsolidasi pikiran, konsolidasi organisasi, konsolidasi program dan konsolidasi jaringan.

Pertama, konsolidasi pikiran; adalah menghimpun seluruh khazanah basis berpengetahuan ala PMII, baik mulai dari pemikiran NDP, Aswaja dan Paradigma serta men-dialektika-kannya dengan realitas kekinian dan kedisinian. Artinya, seluruh kader PMII, meski memiliki konsentrasi pemikiran yang berbeda, harus memiliki kesamaan pandangan dan alur pikir demi mewujudkan langgam dan laku berpengetahuan khas PMII. Konsolidasi pikiran ini diajukan untuk menuntaskan problem keindonesiaan, keislaman dan kemahasiswaan, baik di ranah lokal, nasional, regional dan global. Konsolidasi pikiran ini mencakup pula gerak dan proses akumulasi pengetahuan kader PMII yang berorientasi pada ilmu untuk diamalkan berbasiskan disiplin ilmu kader, kebutuhan kader dan mode berpengetahuan khas PMII.

Kedua, konsolidasi organisasi; adalah mengoptimalkan kemampuan (sumber daya), Struktur Pengurus, Anggota sebagai modal kematangan organisasi, tertib administrasi dan taat aturan-aturan hukum dan ketentuan PMII, penyelarasan aturan hukum sebagaimana hirarki yang ada. (AD/ART-PO-PO (Peraturan Organisasi) – SK-SK (Keputusan Organisasi) dan pembagian kewenangan antar lembaga-lembaga baik dari PB PMII s/d Penggurus Rayon PMII.

Ketiga, konsolidasi program; adalah membangun sinergi program strategis maupun taktis dari PB PMII s/d PR PMII berupa sosialisasi, diseminasi dan kerjasama-kerjasama atau membangun kemitraan strategis dengan pihak lain yang saling menguntungkan dan berkeadilan. Kerjasama pelatihan-pelatihan dan pengembangan sumberdaya Anggota PMII.

Keempat, konsolidasi jaringan; adalah mengupayakan eksistensi dan akselerasi gerakan dengan menjalin hubungan strategis yang dialektik dengan multi stake holder, dan organ atau lembaga strategis, baik yang setingkatatau lainnya seperti (OKP /Ormas/Perguruan Tinggi/LSM/Pengusaha dll), maupun lembaga-lembaga strategis berskala nasional, regional maupun internasional.

Semua tergantung kita sebagai pelaku sejarah hari ini……..!!!!!!

Posted on Februari 7, 2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: