PERINGATI HARI JADI PACITAN KE-270 PMII GELAR REFLEKSI & DOA BERSAMA

WEBJumat, 19 pebruari 2015, bertempat di Sekertariat Komisariat Ki Ageng Petung Pacitan, puluhan kader dan anggota keluarga besar PC PMII Pacitan menggelar doa bersama dan refleksi hari jadi kabupaten pacitan ke-270. Kegiatan yang di mulai setelah menjalankan shalat isyak berjamaah tersebut diawali dengan membaca kalimah tahlil dan istigotsah, kemudian diakhiri dengan refleksi hari jadi kabupaten pacitan.

Dalam refleksi hari jadi ini menyoroti akan potensi-potensi pacitan yang selama 270 tahun ini dapat di maksimalkan untuk kepentingan rakyat namun belum dapat dilaksanakan. Berbagai sektor di pacitan yang mempunyai nilai yang tak terhingga belum mendapatkan sentuhan dari pihak pemerintah. Baik sektor pariwisata, budaya, ekonomi kreatif dan bahkan kearifan lokal pacitan mulai di anak tirikan, sehingga mulai tergerus dengan perkembangan zaman yang tidak dapat di bendung.

PMII juga ikut menyoroti sebuah fenomena yang akhir-akhir ini ngetren terkait pakaian khas pacitan, di tetapkanya baju lurik sebagai pakaian harian resmi pacitan jika di pandang dari prespektif sejarah memang luar biasa, bagaimana pacitan sangat menghargai akan sejarah, walaupun konon baju lurik hanyah seragam abdi dalem pada zaman kerajaan mataram. Namun patut di pertanyakan konsistensi dari pemerintah dalam kebijakan pakaian khas pacitan ini karena beberapa tahun lalu pemerintah sudah lebih dulu mengangkat batik “pace” sebagai prodak asli pacitan bahkan saking semangatnya kini telah tercatat di musium rekor indonesia.

Kini bathik pacitan seolah menangis karena pemerintah justru mengelu-elukan lurik yang bukan produk masyarakat pacitan menjadi seragam harian resmi kabupaten. Jika dipandang dari segi ekonomi sudah berapa puluh juta uang masyarakat pacitan melayang ke solo hanya untuk sepotong kain lurik. “Ini ironis padahal kita sedang menggalakan ekonomi berbasis kerakyatan “ ucap septian (Ketum PMII Pacitan)

Diskusi refeksi ini diwarnai dengan berbagai pandangan, ide-ide baru, dan perdebatan tak bisa dihindari, namun akhirnya mengerucut ke tiga bidang untuk di diskusikan lebih lanjut yaitu pariwisata, kebudayaan, dan olahraga. Dan akhirnya rangkain kegiatan tersebut di tutup dengan makan bersama.

Posted on Februari 20, 2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: