Fenomena Kelulusan, Prestasi dan Masa Depan

artikelDitandai dengan pengumuman kelulusan, berakhir sudah rangkaian proses pembelajaran siswa SMA sederajat untuk kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau bekerja. Namun berakhirnya proses pembelajaran tersebut bukan berarti berakhir pula persoalan pendidikan di negeri ini, melainkan justru tambah permasalahan yang seksi untuk diperbincangkan. Mulai dari pesta kelulusan, prestasi hingga persoalan siswa yang tidak lulus ujian.

Pesta kelulusan yang menjadi kebanggaan para siswa yang telah lulus adalah cambuk yang menyakitkan bagi dunia pendidikan hari ini, dengan bangga mereka mempertontonkan kebobrokan pendidikan bangsa ini. Bagaimana tidak, dengan lulusnya mereka adalah pertanda bahwa orang terdidik semakin bertambah, namun karakter orang terdidik itu hari ini tidak nampak karena mereka justru ugal-ugalan di jalan dengan baju penuh coretan hingga menggelar pesta seks.

Fenomena kegagalan siswa tidak lulus ujian nasional hari ini juga menjadi isu seksi, yang berakhir dengan statmen dari pemangku kebijakan “Bahwa harus ada evaluasi secara komperhensif”, evaluasi adalah sebuah hal yang sangat penting untuk kemudian ada perbaikan. Namun yang menjadi persoalan mengapa ketika ada siswa yang tidak lulus pemerintah baru mencanangkan evaluasi padahal persoalan pendidikan bukan hanya berkutat pada ujian nasional dan kelulusan.

Memang benar ketika tolok ukur keberhasilan sebuah pendidikan yang paling sederhana adalah nilai, akan tetapi ini sedikit bertentangan dengan tujuan pendidikan yaitu “Memanusikan Manusia”, apakan memanusiakan manusia ini cukup dengan nilai akhir ujian nasional saja. Ujian nasional tahun ini memang bukan menjadi satu satunya penentu kelulusan, melainkan di padukan dengan aspek yang lain sehingga ketika ada siswa yang tidak lulus media langsung berpandangan pada sekolah.

Pendidikan tidak lepas dari berbagai sektor yang harus berjalan beriringan, antara lain siswa, guru, orang tua, kepala sekolah dan pemangku kebijakan. Karena beberapa sektor tersebut sangat krusial dalam menentukan arah pendidikan maka jika pemerintah mencanangkan evaluasi makan lima sektor tersebut harus di evaluasi sampai dimana keterperananya dalam pendidikan. Jika evaluasi berjalan searah maka mustahil benang kusut dunia pendidikan akan terurai.

Nilai memang penting untuk menaikan rasa percaya diri seseorang, namun nilai belum bisa dijadikan satu satunya alat ukur kapasitas seseorang, maka harus di padukan dengan aspek sosial, moral dan sebagainya. Output pendidikan harus mengutamakan kualitas bukan kuantitas sehingga siswa yang sudah lulus benar-benar siap pakai baik di dunia kerja maupun dunia akademis. Bukan berapa banyak siswa kita yang sudah lulus namun berapa banyak hasil didikan kita yang siap pakai, juga bukan berapa banyak sekolah kita namun berapa banyak sekolah bermutu kita dangan menghasilkan manusia manusia berkualitas. Evaluasi dunia pendidikan bukan bertujuan untuk meluluskan siswa dengan kuantitas terbanyak melainkan untuk membuat mutu pendidikan ini lebih baik.

Posted on Mei 20, 2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: