IDEOLOGI PANCASILA TERGERUS PANCAROBA

pmiipancasilaKehidupan berbangsa dan bernegara akhir-akhir ini sedang dilanda krisis multidimensi, dalam aspek politik sistem demokrasi cenderung berlandaskan liberalisme, dalam aspek ekonomi mengikuti arus pasar yang menuhankan laissez faire (pasar bebas). Dalam aspek budaya, perilaku hedonistis atau kebarat-baratan semakin merajalela, praktik-praktik yang yang dijalankan tersebut dalam bermasyarakat maupun mengelola negara semakin jauh dari nilai-nilai pancasila.

Berbagai hal tersebut bukanlah omong kosong, namun sudah terbukti dalam realita kehidupan rakyat indonesia, dengat mata telanjang kita bisa menyaksikan bagaimana demokrasi di negeri ini. Kontestasi politik yang seharusnya berlandaskan musayawarah dengan pertarungan ide, visi misi dan gagasan kini beralih pada pertarungan kekuatan finansial yang ini lebih mengarah kepada liberalisme.

Dalam ber-ekonomi kini indonesia juga sudah melenceng dari ajaran pancasila yang bekeadilan sosial, namun kebijakan-kebijakan lebih menguntungkan para pemilik modal sehingga muncul kasta-kasta dalam status ekonomi di negeri ini. Begitupun dalam berbudaya kini konsep pancasila yang humanis, dan menjunjung tinggi persatuan seolah tergerus dengan sikap-sikap hedonis yang memecah belah umat manusia.
Nilai-nilai ideologis yang terkandung dalam pancasila seolah rontok bak tergerus pacaroba, hal tersebut adalah akibat dari salah kelola terhadap negara, tak heran jika kekayaan sumber daya alam indonesia gagal di fungsikan untuk kesejahteraan rakyatnya. Kehadiran pemerintah seakan tidak ada artinya. Di masyarakan terjadi hal tak seimbang dan tak sederajat berupa hubuingan tuan-hamba, majikan-buruh, dan kaya-miskin.

Padahal untuk menjadi bangsa yang adidaya, tidak ada cara selain membentuk masyarakat yang pancasilais. Upaya untuk membentuk individu atau manusia pancasilais membutuhkan kerja keras. Karakter manusia indonesia sudang sangat rapuh. Muhtar lubis dalam cerramahnya 6 april 1977 di taman ismail marzuki mendiskripsikan manusia indonesia dengan ciri ciri hipokrit alias munafik, enggan bertanggung jawab, berjiwa feodal, percaya takhayul, berwatak lemah dan ciri lain seperti tidak hemat dan pemalas.

Karakter manusia indonesia yang demikian tampaknya telah melahirkan masyarakat yang takut pada bayangan sendiri, ilutif dan inlander. Mereka memuja peradaban luar tanpa mensunergikan dengan peradaban nusantara. Mereka mentradisikan isme-isme luar tanpa mengkontekstualisasikan dengan national wisdom (kearifan nasional) atau local wisdom (kearifan lokal atau daerah).

Jika karakter demikian masih dipertahankan bukan tidak mungkin in donesia akan semakin bobrok. Upaya untuk menjadikan bangsa indonesia berdaulat di bidang politik, berkepribadian di bidang budaya, dan mandiri secara ekonomi juga akan semkin berat.

Nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila sendiri merupakan cerminan dari bangsa yang di idam-idamkan sukarno yang di utarakan dalam konsep trisaktinya. Ini lantaran dalam pancasila terdiskripsikan secara tersirat identitas kebudayaan, politik dan ekonomi bangsa indonesia.

Sila pertama hingga ketiga merupakan cerminan keagamaan (teisme), kemanusiaan (humanisme) dan kebangsaan (nasionalisme). Keagamaan yang berciri saling menghormati dan menjunjung tinggi pluralitas agama. Kemanusiaan yang berlandaskan hak dasar dari manusia berupa kemerdekaan diri dan jiwa bagi setiap manusia. Dan kebangsaan yang menjunjung tinggi persatuan yang saling mengikat dalam bingkai bineka tunggal ika yang inilah merupakan identitas budaya indonesia.

Adapun sila keempat panduan dalam berdemokrasi, demokrasi yang diinginkan adalah demokrasi pancasila yang berfondasi musyawarah, berciri pertarungan ide visi dan gagasan. Inilah sesunguhnya identitas bangsa indonesia yang bisa menjadikanya berdaulat secara politik. Mengenai sila kelima, nilai sosialisme terkandung didalamnya, bukan kepentingan pribadi atau kelompok yang diprioritaskan, melainkan kepentingan rakyat dan negara yang diutamakan, dengan begitu bangsa indonesia akan mandiri secara ekonomi.

Semua nilai yang terkanding dalam pancasila tersebut tak bisa dipisahkan. Kelimanya saling terkait, saling tergantung satu sama lain, dan harus ditradisikan secara bersamaan. Ibarat organ tubuh, satu saja sakit dan tidak berfungsi, semuanya kan merasa kesakitan.

Posted on Juni 1, 2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: