JIWA “NEGARAWAN” ELIT POLITIK PACITAN SEDANG DI UJI

Hajat besar dmaskotan Pesta demokrasi rakyat Kabupaten Pacitan tinggal beberapa bulan lagi, tepat 9 desember 2015 akan digelar pemilihan bupati dan wakil bupati pacitan periode 2016-2021. Besar harapan seluruh lapisan masyarakat pacitan untuk mewujudkan pacitan yang lebih baik di masa mendatang. Tentunya sangat ditunggu-tunggu kemeriahan kontestasi politik pacitan yang beberapa gelaran terakhir tidat lepas dari radar nasional karena keberadaan salah seorang putra pacitan yang menjadi pimpinan negara dan partai politik yang kini paling dominan di pacitan.

Siapapun tahu bahwa pengaruh SBY (Susilo Bambang Yudoyono, red) di pacitan sangatlah luar biasa sehingga dalam dua gelaran terakhir yang menjadi pemenang adalah calon yang mendapatkan restu dan rekomendasi dari presiden ke-6 republik indonesia tersebut. Bahkan sering muncul guyonan bahwa jika berbicara pacitan “yo opo jare pek beye”, hal tersebut sangatlah wajar dan masuk akal, karena SBY adalah putra daerah pacitan tersukses sepanjang sejarah. Hal tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi rakyat pacitan dan kemungkinan tidak bisa dihapuskan dari memori rakyat pacitan.

Kini setelah tidak lagi menjabat sebagai orang nomor satu di Indonesia, banyak pertanyaan yang sering muncul dalam perbincangan-perbincangan kecil di warung kopi. Apakah pengaruh personal power SBY masih kuat dipacitan…? tentunya banyak pro kontra terkait jawaban pertanyaan tersebut, namun realita di lapangan tidak dapat dipungkiri bahwa kecintaan rakyat pacitan terhadap SBY tidak pernah luntur, sehingga nama SBY kemudian masih sangat menjual sebagai alat politik di pacitan.

Menjelang pemilihan bupati dan wakil bupati pacitan kali ini terdapat suasana berbeda dari gelaran sebelumnya, hiruk pikuk pencalonan sebagai bupati pacitan kini tidak lagi ditemukan. Kondisi Pacitan Adem Ayem ini kadang membuat gemes para pengamat politik di pacitan. Muncul banyak pertanyaan dari berbagai kalangan terkait kondisi pacitan ini, kekuatan apa yang menjadikan partai politik di pacitan keenakan tidur dan terlambat terbangun.

Muncul berbagai opini di masyarakat pacitan akan jawaban dari pertanyaan tersebut, karena terlalu kuatnya elektabilitas Indartato (petahana) disebut-sebut sebagai penyebab keder nya elit politik pacitan untuk muncul sebagai pesaing. Namun juga ada yang menyebutkan bahwa pengaruh SBY masih mendominasi percaturan politik terkini di pacitan walaupun sudah tidak menjadi orang nomor satu di negeri ini.

Jika berbagai opini yang muncul ini adalah kenyataan maka jiwa elit politik pacitan sebagai “Negarawan” benar-benar diuji. Hingga saat ini menjelang dubukanya pendaftaran calon bupati dan calon wakil bupati oleh komisi pemilihan umum (KPU) daerah, belum ada deklarasi pencalonan untuk menantang petahana (Indartato). Ini menjadi indikasi bahwa siapapun yang akan menantang calon petahana mesti berpikir 1000 kali. Jika maju hanya untuk kalah besar kemungkinan banyak yang keberatan untuk mencalonkan diri.

Akhir-akhir ini muncul poros koalisi besar yang digawangi oleh PDI Perjuangan. Golkar, Hanura, Gerindra, PAN dan Nasdem, namun masih malu-malu juga untuk memunculkan calon sebagai penantang kuat incumbent.
Dalam kondisi yang sedemikian rumit ini pacitan membutuhkan satrio piningit untuk menyelamatkan keberlangsungan sistem demokrasi dipacitan. Partai politik harus berani menunjukan dirinya sebagai alat pendidikan demokrasi bagi rakyat bukan berorientasi tawar menawar yang memperhitungkan untung dan rugi. Karna jika partai politik dan para elit partainya terus menerus tarik menarik dengan untung, rugi, menang, dan kalah maka konsekwensinya rakyat yang akan menjadi korban.

Jika 2015 ini pacitan batal menggelar pemilihan bupati dan wakil bupati makan gelaran pesta demokrasi akan ditunda 2017 mendatang, itu berarti rakyat pacitan harus bersiap-siap untuk tidak memiliki bupati alias di isi oleh pelaksana tugas (PLT) yang akan ditunjuk oleh gubernur selama dua tahun. Kita tahu bahwa kewenangan pelaksana tugas (PLT) sangatlah terbatas sehingga dua tahun kedepan rakyat pacitan bersiap untuk puasa.

Kini sudah saatnya rakyat melek politik dan melek demokrasi agar segala bentuk fenomena yang terjadi selalu terpelototi dan rakyat tidak akan mudah dipermainkan. Demikian juga dengan partai politik, saatnya menunjukan fungsinya dalam berdemokrasi jangan sampai kedepan opini publik memvonis bahwa partai politik hanyalah alat tawar menawar kepentingan sesaat.

Posted on Juli 24, 2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: