Memasuki Musim Hujan, Awas Penyakit Pancaroba Mengancam!

Senin, 14 Desember 2015 – Turunnya hujan di beberapa wilayah Indonesia akhir-akhir ini menandakan bahwa musim hujan akan segera tiba dan musim kemarau akan segera berlalu. Di antara peralihan dua musim ini, ada waktu yang biasa disebut “pancaroba”.

Sapto Pitoyo. Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pacitan, mengatakan, pada permulaan musim hujan yakni November, penyakit yang disebabkan oleh virus biasanya mulai datang, di antaranya chikunguya, campak, cacar, DBD, hepatitis, dan sakit mata.

Sapto menambahkan, saat hujan mulai lebat pada Desember, Januari, hingga Februari, maka yang muncul penyakit pencernaan dan pernapasan.

“Terjadi perubahan suhu udara, adaptasinya pada Desember dan Januari. Kemudian sudah mulai dingin, maka penyakit yang timbul biasanya batuk dan sakit perut. Batuk pilek tergantung pada cuaca dan kelembapan udara,” ungkapnya saat berbincang di kantor pc pmii pacitan kemarin.

Sapto menambahkan, saat banjir mulai datang dari Arjosari, dan masuk pacitan, penyakit yang timbul menyerang pencernaan. Karena sanitasi saluran air mampet dan tercemar, maka terkontaminasi oleh berbagai penyakit.

“Banjir biasanya yang timbul sakit perut, kontaminasinya spread over. Kebersihan lingkungan tak dijamin. High risk kontaminasi makanan. Kulit gatal-gatal dan biduran, itu karena perubahan cuaca,” paparnya.

Dia juga menyebutkan bahwa penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) biasa menyerang pada Desember-Januari. Kemudian, lanjut Made, memasuki musim pancaroba seperti saat ini, yakni Maret, April, Mei, adalah musim penularan karena frekuensi hujan sudah mulai berkurang. Tetapi genangan air masih banyak tersisa sedangkan cuaca memanas di mana matahari bergerak dari selatan ke katulistiwa.

“Hati-hati sebulan setelah hujan lebat terakhir. Udara memanas. Kelembapan suhu udara sangat mudah untuk tempat berkembangbiak dan menularkan air liur nyamuk. DBD mulai banyak muncul,” ungkapnya.

Pada musim pancaroba ini, kata Sapto, daya tahan tubuh cenderung menurun. “Cuaca mulai berubah, hujan, dan panas. Itu membuat tenggorokan kita sakit kalau mengonsumsi es saat usai berjalan di tengah cuaca yang panas, maka timbul radang tenggorokan, karena itu jaga daya tahan tubuh kita,” tutupnya. (Sap)

Posted on Desember 14, 2015, in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: